1,539 total views

Pencak Silat tidak bisa lepas dari masyarakat Betawi. Ia telah mewarnai kehidupan masyarakat yang mendiami Sunda Kelapa atau Jayakarta sejak beberapa abad lalu. Dahulu, silat menjadi ilmu yang “wajib” dipelajari bagi anak muda Betawi. Selain untuk membekali diri ketika berhadapan dengan centeng, tuan tanah, dan kompeni,

Sama seperti aliran silat tradisional lainnya yang namanya merujuk pada suatu daerah asal, seperti Cimande dan Cikalong, banyak aliran silat Betawi yang merunut pada asal kampung atau daerah perkembangannya. Selain itu, masyarakat Betawi juga lebih sering mengidentifikasi dirinya berdasarkan lokalitas mereka dalam pergaulan sehari-hari, seperti orang Rawa Belong, orang Kemayoran, dan orang Senen. Demikian aliran silat mereka, kerap kali merujuk pada daerah-daerah itu, atau pada nama orang yang mengembangkannya.silat juga sering dipertunjukkan saat menggelar hajatan pernikahan. Bahkan, hingga saat ini, tradisi “Palang Pintu” yang menampilkan atraksi silat masih terus bertahan.

Sebagai kota perniagaan, sejak awal masyarakat Jayakarta sangat majemuk. Betawi sendiri bisa dibilang etnis yang lahir belakangan di Jayakarta, atau kini disebut Jakarta.

Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan kelompok etnis lainnya yang lebih dahulu hidup di Jakarta seperti Jawa, Sunda, Arab, Ambon, dan Melayu. Etnis ini diperkirakan baru terbentuk pada awal abad ke-19.

Kemajemukan ini berimplikasi pada akulturasi budaya, seni, adat istiadat, termasuk ilmu beladiri. Aliran silat Betawi banyak yang diwarnai oleh aliran silat lain seperti Cimande dari Sunda, Sabandar dari Melayu, dan Kuntau dari Tiongkok. Silat Beksi adalah salah satu aliran silat yang cukup dipengaruhi oleh ilmu beladiri China atau Tiongkok. Ia dikembangkan oleh murid-murid Lie Cheng Oek.

Syahdan, ada seorang petani keturunan China bernama Lie Cheng Oek (ada beberapa versi penulisan nama ini seperti Li Ceng Ok dan yang lainnya). Ia tinggal di sebuah desa di Dadap, Tangerang. Lie yang memiliki ilmu beladiri warisan leluhurnya, bersengketa dengan petani pribumi soal saluran air di sawah mereka. Karena keduanya memiliki ilmu beladiri, perselisihan itu pun berlanjut menjadi perkelahian. Namun, sebelum bertarung, mereka membuat perjanjian “Siapa yang kalah harus berguru kepada si pemenang”. Tradisi ini lazim di masa lalu, pesilat yang kalah akan berguru kepada yang menang, sebagai bentuk pengakuan dan sportifitas.

Setelah pertarungan sengit berakhir, petani pribumi itu mengakui keunggulan Lie. Ia pun harus memenuhi janji yang pernah diikrarkan. Sayangnya, ia merasa sudah terlalu renta untuk belajar ilmu beladiri lagi, sehingga ia mengutus anaknya yang bernama Marhali untuk berguru kepada Guru Lie. Marhali pun belajar hingga mahir menggunakan ilmu silat yang khas menggunakan kepalan tangan terbalik ini. Dari sini ilmu silat warisan Guru Lie kian santer terdengar. H. Ghozali yang datang dari Petukangan pun menjajal silat Marhali, dan akhirnya belajar kepadanya.

Ghozali yang kembali ke Petukangan, menularkan ilmu silatnya kepada teman-temannya, di antaranya H Hasbullah. Merasa masih haus ilmu silat, Kong Has, demikian ia akrab disapa, meniti perjalanan ke Dadap untuk menuntut ilmu langsung dari guru H. Ghozali, yaitu Marhali dan kemudian juga sempat belajar langsung kepada Guru Lie.

Hasbullah, adalah salah satu pendekar Beksi yang populer. Di tangannya pula, aliran silat ini semakin berkembang pesat, terutama di Jakarta dan sekitarnya. Kong Has, wafat pada 14 November 1989 dalam usia 126 tahun. Sebelum wafat Kong Has pun mengamanahkan ilmu silat Beksi kepada menantunya, Sabenuh Masir (Babeh Benuh), untuk melanjutkan dan mengembangkan silat Beksi.Cimande dari Sunda, Sabandar dari Melayu, dan Kuntau dari Tiongkok

Cerita di atas hanyalah salah satu versi dari sekian banyak cerita yang ada tentang sejarah silat Beksi. Cerita-cerita itu dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi, sehingga tak jarang ada perbedaan yang mendasar antara satu cerita dengan cerita lainnya.

Secara harfiah, “BEKSI” diadopsi dari dua kata dalam bahasa Tionghoa, yaitu Bie yang berarti “pertahanan”, dan Si yang berarti “empat”. Jadi, BEKSI itu bisa dimaknai dengan Pertahanan dari Empat penjuru. Belakangan, BEKSI juga menjadi akronim dari “Berbaktilah Engkau Kepada Seruan Ilahi“. Ada pula yang memberi singkatan lainnya, yaitu “Berbaktilah Engkau Kepada Semua Insan”. Filosofi ini merupakan seruan aplikasi perbuatan baik yang wajib di jalani setelah seseorang belajar Beksi.

Sesuai namanya yang semula, jurus-jurus dari silat Beksi didominasi oleh gerakan yang menghadap empat penjuru mata angin. Gerakan dalam silat Beksi murni menggunakan fisik. Jurus-jurusnya didominasi oleh gerakan tangan yang cepat untuk melumpuhkan musuh. Sedikitnya ada 12 jurus, 9 formasi, dan 6 jurus kembangan yang harus dikuasai dalam ilmu silat Beksi.

Salah satu murid Babeh Nuh, Muali Yahya, merupakan tokoh penting dalam pengembagan silat Beksi. Kini ia mendirikan perguruan Beksi Merah Delima Indonesia (BMD). Di bawah kepemimpinan Bang Ali, demikian ia biasa disapa, silat Beksi sangat berkembang. Ia juga juga sangat aktif membawa Beksi menjalin silaturrahmi dengan perguruan- perguruan silat lain. Bahkan, Beksi kerap mengikuti pertukaran antarbudaya di berbagai provinsi.

Perguruan silat BMDI bermarkas di Jl. Gandaria 2 Bawah No. 34 Kel. Jagakarsa Kec. Jagakarsa Jakarta Selatan. BMDI sekarang dipimpin oleh Ketua Umum Ali Sobirin, dengan tiga orang Dewan Guru yaitu Abdurahman, Wahyudi, dan Suprya Wahyu, serta satu orang Guru Tama yaitu Muali Yahya.

Kekhasan yang terdapat dalam BMDI yang merupakan seni bela diri asal Betawi ini terletak pada kekuatan tangan, kecepatan, dan kekuatan untuk melawan serangan dari 4 penjuru dengan pukulan kepalan tangan yang terbalik. Adapun jurus andalan atau yang paling masyhur dari perguruan silat ini meliputi Beksi Dasar, Gedik, Tancep, Cauk, Lokbeh, Beksi Satu, Broneng, Tingkes, Kebut, Bandut, Petir, Silem, Bolang Baling, , Tunjang, Segitiga, Janda Berhias, Jalur Renda, dan Tajur Halang.

Banyak makna dan nilai yang terkandung dalam setiap gerakan, ajaran, maupun jurus-jurus di atas.  Setidaknya, semua jurus di perguruan ini terangkai dalam tiga kata, yaitu rasa, reaksi, dan gerak. Dalam pengajaran ilmu silatnya, BMDI tidak saja menekankan pada jurus-jurus yang mematikan, melainkan juga diperkaya dengan wejangan spiritual yang penuh makna. Seusai latihan, sang guru biasanya memberikan taushiyah, baik yang berkaitan dengan keagamaan, juga mengenai etika dan adab dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, pesilat Beksi tidak saja pandai memainkan jurus, memiliki kekuatan fisik dan beladiri yang mumpuni. Para pendekar Beksi diharapkan menjadi figur yang tangguh secara fisik serta mantap secara moral dan spiritual, juga bisa bermanfaat dan membawa kedamaian tuk dirinya sendiri dan masyarakat sekitarnya dimanapun dia berada.

Sumber : Kampung Silat Jampang