4,016 total views

Sejarah Ilmu Sin Lam Ba berasal dari H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten. Syekh Abdul Karim Banten merupakan tokoh Tarekat Qadiriyyah yang terkenal di Asia Tenggara pada akhir abad ke-19 (salah satu Imam Masjid di Mekah, berdasarkan keterangan keluarga beliau).

Setelah pecahnya Perang Banten yang digagalkan Belanda pada tahun 1888, putra-putra beliau menyingkir ke pedalaman Karawang Utara, tujuan pertamanya ingin ke Sultan Agung di Demak. Karena suatu hal mereka terdampar di daerah Karawang, Pantai Pakis Kertajaya, sekitar 15 KM timur laut Rengas Dengklok, lalu mendirikan sebuah pesantren. Rombongan ini dipimpin putra beliau yang belakangan dikenal dengan nama H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten (wafat pada tahun 1939-an dalam usia hampir 100 tahun). H. Oddo kemudian memberikan pengajaran Ilmu Hikmah kepada Pak Toha bin Sieng dari Betawi (Tebet, Menteng dalam), lalu dilanjutkan oleh salah satu muridnya yaitu H. Harun Achmad.

Toha bin Sieng

Sebelumnya, Pak Toha bin Sieng yang lahir pada tanggal 15 Agustus 1889 dan wafat pada tanggal 8 Desember 1957, merupakan opsir Belanda yang desersi (seorang tokoh pendekar yang disegani di Betawi), dan kemudian berniat pergi mencari Ilmu Hikmah (sekitar tahun 1934) ke daerah kulon (Banten). Di tengah perjalanan, di dalam kereta api, Pak Toha bin Sieng bertemu dengan seorang kakek/ sosok orang tua, dia menyuruh Pak Toha untuk pergi ke daerah wetan (Karawang). Konon, setelah memberitahu kepada Pak Toha, kakek/orang tua tersebut menghilang, dicari lagi sudah tidak ada di tempatnya. Akhirnya Pak Toha bin Sieng menuruti nasehatnya untuk pergi ke suatu tempat yang ternyata pesantren milik H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten dengan tujuan untuk menuntut Ilmu Hikmah, karena secara ilmu kependekaran Pak Toha merasa sudah cukup. Konon di Betawi dia sudah dikenal di dunia persilatan pada masa itu (pendekar Toha dari Betawi).

Singkat cerita di pesantren tersebut Pak Toha bin Sieng tidak langsung diberi Ilmu Hikmah, melainkan diberi tugas sebagai marbot (penjaga masjid), yang bertugas untuk membersihkan masjid dan mengisi air untuk berwudhu.

“Perguruan ini memiliki kekhasan, yaitu silat tangan kosong khas Perguruan  Betawi dan jurus-jurus senjata terutama golok, dengan jurus “Langkah Lima” sebagai jurus andalannya yang termasyhur.”

Setelah 2 tahun 10 bulan berselang, barulah H. Oddo mengijinkan Pak Toha bin Sieng beserta enam putra H. Oddo untuk mengambil salah satu manuskrip/kitab (terbuat dari gulungan rokok kaung) yang ada di langitlangit masjid (dilakukan pada waktu malam Jum’at pada saat Nisfu sya’ban menjelang bulan Ramadhan).

Gulungan tersebut terdapat di dalam salah satu kumpulan kaleng rokok kaung (kumpulan kulit jagung), salah satu gulungan yang diambil bertulisan huruf arab gundul (tidak ada tanda baca) yang dapat diartikan “Intisari dari ilmu keberkahan dunia dan akhirat“ dan “Ilmu yang bekerja jika dizalimi orang lain“ merupakan salah satu ilmu yang terkandung di dalamnya. Selanjutnya H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten memberikan wejangan dan amalan ( zikir) kepada Pak Toha bin Sieng.

Setelah 2 tahun 10 bulan meninggalkan Betawi, Pak Toha bin Sieng akhirnya kembali sekitar tahun 1937. Sesampainya di Tebet, keluarganya kaget melihat kedatangan Pak Toha bin Sieng yang dikira sudah meninggal. Setelah itu Pak Toha bertemu dengan adiknya yang sudah lama mencarinya. Adiknya yang juga seorang jawara, penasaran akan ilmu yang didapat oleh kakaknya itu.

Setelah menceritakan tentang ilmu yang didapat dari H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten, Pak Toha bin Sieng masih belum bisa mengerti atau memahami fungsi dan kegunaan ilmu tersebut. Sang adik pun disuruh oleh Pak Toha untuk menyerangnya dari dapur (serangan pukulan jarak jauh), tiba-tiba dari ruang tamu, Pak Toha terkejut mendengar suara gaduh dari arah dapur. Dilihatnya sang adik menggelepar seperti ayam terpotong di dapur (dekat tungku). Dengan kebingungan Pak Toha bin Sieng menyembuhkannya secara spontan dengan menyebut Bismillah, Istighfar, dan Allahu Akbar, lalu mengusapkan tangannya ke tubuh adiknya itu, setelah itu adiknya kembali sadar seperti semula.

Setelah peristiwa itu barulah Pak Toha bin Sieng menyadari salah satu manfaat ilmu yang didapat dari H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten. Kemudian Pak Toha bin Sieng mengajarkan dan mengembangkan jurus silat tangan kosong dan jurus golok muka dua (jurus Pak Toha 1938-1957). Selain itu Pak Toha juga mengajarkan Ilmu Hikmah (tenaga dalam), yang didapatkan dari H. Oddo. Tak lama berselang dalam tafakur malamnya selama 40 hari, Pak Toha menciptakan suatu jurus tenaga dalam, yang niat awalnya untuk mempersatukan semua murid yang belajar ilmu silat luar (tangan kosong/jurus golok) dan tenaga dalam (Ilmu Hikmah) baik dari kalangan keluarga maupun masyarakat umum. Jurus itu bernama “Langkah Lima”, dan hingga sekarang jurus itu dipakai sebagai jurus wajib bagi setiap ikhwan/akhwat (muridmurid) Perguruan Silat Sin Lam Ba di seluruh pelosok nusantara.

Secara resmi Perguruan Silat Sin Lam Ba didirikan pada tahun 1937 di Tebet, Jakarta Selatan, dan memiliki visi sa’adah (kebahagiaan), latifah (kelembutan), dan barokah (keberkahan). Perguruan ini memiliki kekhasan, yaitu silat tangan kosong khas Perguruan Betawi dan jurus-jurus senjata terutama golok, dengan jurus “Langkah Lima” sebagai jurus andalannya yang termasyhur. Secara implisit jurus “Langkah Lima” bermakna Rukun Islam dan Pancasila. Sampai sekarang perguruan ini sudah tersebar di Jakarta, Bogor, Bandung, Jambi, dan Padang.

Sumber : Kampoeng Silat Jampang