1,198 total views

Golok Khas Betawi

Senjata merupakan kepanjangan tangan manusia dalam usaha membela diri secara fisik. Perkembangannya dipengaruhi oleh kebudayaan dan lingkungan alam, maka sering ditemukan kesamaan model senjata antara satu dengan lain daerah yang letak geografisnya berdekatan.

Tak sedikit senjata yang berangkat dari alat pertanian atau perkakas sehari-hari, yang lantas mengalami perkembangan dan penyesuaian pada bentuk serta fungsinya sebagai senjata untuk bertarung.

Proses asimilasi dan transformasi kebudayaan pada suatu daerah, meski letak geografisnya berjauhan, memegang peranan cukup penting dalam perkembangan model senjata tradisional. Proses ini terjadi pada satu kebudayaan dengan karakter terbuka, seperti kebudayaan Melayu yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan India (abad ke-1 M) dan Cina (abad ke-16 M).

Bagi masyarakat Betawi yang menurut arkeolog Uka Tjandrasasmita merupakan penduduk asli Sunda Kelapa (Monografi Jakarta Raya dan Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan Pajajaran, 1977), memiliki senjata tradisional yang belum terpengaruh kebudayaan asing sejak zaman Neolithikum atau zaman Batu Baru (3000-3500 tahun lalu).

Hal ini dapat ditemukan pada bukti arkeologis di Jakarta dan sekitarnya, di mana terdapat aliran-aliran sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi, dan Citarum, dan pada tempat-tempat tertentu sudah didiami manusia. Beberapa tempat yang diyakini berpenghuni manusia itu antara lain Cengkareng, Sunter, Cilincing, Kebon Sirih, Tanah Abang, Rawa Belong, Sukabumi, Kebon Nanas, Jatinegara, Cawang, Cililitan, Kramat Jati, Condet, Pasar Minggu, Pondok Gede, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Kelapa Dua, Cipete, Pasar Jumat, Karang Tengah, Ciputat, Pondok Cabe, Cipayung, dan Serpong. Jadi menyebar hampir di seluruh wilayah Jakarta.

Dari alat-alat yang ditemukan di situs-situs itu, seperti kapak, beliung, pahat, pacul yang sudah diumpam halus dan memakai gagang kayu, disimpulkan bahwa cikal bakal masyarakat Betawi sudah mengenal pertanian (mungkin perladangan) dan peternakan.

Bahkan mungkin telah mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang teratur. Senjata maen pukulan Betawi banyak ragamnya, mulai dari senjata asli sampai hasil asimilasi dengan kebudayaan asing. Ada pula senjata khusus untuk kaum hawa, yang menunjukkan maen pukulan tidak hanya didominasi pria. Hal ini tertuang dalam cerita rakyat Betawi tentang kehebatan Mirah Singa Betina dari Marunda, dan Nyi Mas Melati dari Tangerang.

Namun dari sekian banyak senjata yang digunakan, golok merupakan yang paling umum ditemukan menjadi senjata pegangan orang Betawi. Hingga Golok menjadi senjata yang khas meski senjata jenis bacok ini juga menjadi senjata yang umum digunakan oleh beberapa etnis, terutama etnis yang secara wilayah berdekatan dengan Betawi seperti Banten dan Sunda.

Golok yang merupakan senjata tajam ini umum ditemukan pada masyarakat Melayu, namun penamaannya berlainan berdasarkan daerahnya. Sebagian besar masyarakat di Pulau Jawa menyebut senjata jenis “bacok” ini golok.

Pada masyarakat Betawi keberadaan golok sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa Barat. Kepopuleran golok melahirkan ungkapan “bukan lelaki Betawi namanya kalau tidak memiliki golok”.

Masyarakat Betawi membagi golok ke dalam dua golongan, yaitu Golok Gablongan dan Golok Sorenan. Golok gablongan adalah perkakas yang biasa digunakan untuk pekerjaan sehari-hari seperti memotong kayu dan pohon. Ada juga yang menyebutnya bendo atau golok dapur.

Sedangkan golok sorenan hanya sewaktu-waktu digunakan, untuk keperluan di luar pekerjaan harian. Golok sorenan dibedakan menjadi dua, yaitu Golok Sorenan Simpenan untuk memotong hewan (kambing, kerbau, dan sapi) dan Golok Sorenan Pinggang untuk menjaga diri atau bertarung, yang selalu diselipkan di pinggang.

Terkadang golok ini menjadi senjata pusaka yang diwariskan turun temurun. Para lelaki atau jago Betawi menempatkan golok sebagai senjata sakral yang tidak boleh diperlihatkan apalagi dimain-mainkan di depan umum.

Sumber : SejarahJakarta.com